Rumah Adat Papua : Nama, Keunikan dan Penjelasannya

Rumah Adat Papua – Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya.

Setidaknya terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dan juga lebih dari 1.340 suku bangsa terdapat di Negara Indonesia. Masing-masing kelompok suku maupun etnis memiliki kebudayaan masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Namun meskipun demikian, Indonesia tetap bersatu dalam Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman kebudayaan masing-masing suku bisa dilihat dari jenis pakaian adat, tradisi yang dilakukan dan juga bentuk rumah adat. Salah satu suku di Indonesia yang memiliki kebudayaan dan juga bentuk rumah adat yang unik adalah Papua.

Rumah adat Papua memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah adat lainnya yang identik menggunakan rumah panggung atau rumah joglo.

Rumah adat Papua memiliki desain arsitektur yang unik dan indah, sehingga tidak mengherankan jika banyak wisatawan datang untuk mengunjunginya dan menikmati keindahannya secara langsung.

Apalagi dengan didukung alam Papua yang masih asri tentunya menjadi daya tarik tersendiri baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

Menjadi salah satu provinsi dengan wilayah terluas di Indonesia, menjadikan Papua memiliki suku yang beragam. Masing-masing suku memiliki adat istiadat tersendiri yang dijunjung tinggi.

Bahkan adat istiadat di Papua masih sangat kental. Hal ini sengaja dilakukan agar kebudayaan yang mereka miliki masih bisa terjaga dan lestari.

Perbedaan adat istiadat ini juga ternyata mempengaruhi struktur dan bentuk bangunan rumah adat Papua. Setidaknya terdapat 5 jenis bentuk rumah adat Papua yang memiliki bentuk dan filosofi yang berbeda-beda. Nah untuk lebih jelasnya, simak ulasannya berikut ini!

Contents

Jenis-Jenis Rumah Adat Papua Beserta Penjelasannya

jenis jenis rumah adat papua beserta penjelasannya
gpswisataindonesia.wordpress.com

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwasanya Papua menjadi provinsi dengan daerah terluas di Indonesia. Oleh sebab itulah, terdapat banyak suku di Papua dengan segala perbedaannya. Termasuk dalam bentuk dan struktur bangunan Rumah Adat Papua.

Rumah Adat Papua memiliki bentuk dengan filosofi yang berbeda-beda. Setidaknya terdapat lima jenis rumah adat di Papua. Diantaranya adalah Ebai, Honai, Kariwari, Wamai dan Rumsram.  Masing-masing bangunan memiliki struktur bangunan yang berbeda. Bahan penyusunnya juga berbeda. Bahkan terdapat filosofinya masing-masing. Penasaran seperti apa? Simak ulasannya berikut ini!

Ebai

ebai
rumah adat papua

Rumah adat Papua yang pertama adalah bernama Ebai. Ebai merupakan rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal ibu-ibu dan juga anak gadisnya. Anak laki-laki yang boleh tinggal di rumah Ebai adalah mereka yang belum beranjak dewasa. Sementara bagi anak laki-laki yang sudah dewasa harus pindah ke rumah honai.

Nama Ebai sendiri diambil dari kata “ebe” yang memiliki makna tubuh dan juga kata “ai” yang memiliki arti rumah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rumah Ebai merupakan rumah bagi sebuah kehidupan. Di rumah inilah para anak-anak perempuan akan diajarkan berbagai ilmu tentang kehidupan terlebih kehidupan sesudah menikah.

Seperti memasak, merawat anak, melayani suami dan lain sebagainya. Rumah Ebai ini memiliki bentuk yang cukup unik. Tidak seperti rumah-rumah di Jawa atau Sumatra pada umumnya, seperti rumah panggung atau rumah joglo, rumah Ebai ini memiliki bentuk dengan atap setengah lingkaran.

Rumah ini memiliki ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah Honai. Biasanya berada di samping kanan atau kirinya. Pintu rumah Ebai ini berada tidak sejajar dengan pintu utama rumah Honai.

Rumah Honai

rumah honai
rumah adat papua

Selain rumah Ebai, salah satu rumah adat Papua yang juga cukup populer adalah Rumah Honai. Rumah Honai ini biasanya ditempati oleh suku Dani. Mereka yang tinggal di rumah Honai adalah para laki-laki dewasa. Sementara untuk para wanita dan anak-anaknya tinggal bersama di rumah Ebai.

Nama Honai didapat dari dua kata, yaitu Hun dan ai. Kata “hun” dalam Bahasa Papua memiliki makna laki-laki, sementara kata “ai” memiliki makna rumah. Sehingga dilihat dari namanya sudah bisa diketahui bahwa rumah Honai adalah rumah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal laki-laki.

Rumah honai ini bisa ditemukan di pedalaman Papua yang biasanya terletak di pegunungan atau pun lembah. Dengan memiliki bentuk arsitektur yang unik dan indah membuat rumah Honai memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Rumah honai ini memiliki bentuk atap kerucut, seperti jamur.

Atapnya terbuat dari jerami sementara dindingnya terbuat dari bahan kayu. Bentuk atap sengaja didesain demikian dengan maksud untuk mengurangi hawa dingin di pegunungan dan juga menghindari air hujan, sehingga rumah Honai menjadi salah satu tempat tinggal yang nyaman dan hangat.

Ciri khas yang dimiliki rumah Honai adalah hanya memiliki satu buah pintu tanpa jendela. Tinggi rumah ini hanya sekitar 2,5 meter dengan luas ruangan sekitar 5 meter. Rumah ini sengaja dibuat dengan ruangan yang sempit karena untuk menciptakan udara yang hangat di dalam ruangan.

Tinggal di lembah atau pun pegunungan sering kali hadir suhu udara yang sangat dingin. Karena hal inilah yang melatar belakangi desain dari pembuatan rumah Honai. Bahkan di bagian tengah rumah ini terdapat sebuah lingkaran yang digunakan sebagai tempat perapian dan juga penerangan.

Rumah Rumsram

rumah rumsram
gpswisataindonesia.wordpress.com

Rumah adat Papua yang ketiga memiliki nama rumah Rumsram. Rumah Rumsram ini biasanya ditinggali oleh suku Biak Numfor yang tinggal di pulau-pulau. Rumah ini dibuat sebagai tempat tinggal para lelaki. Berbeda dengan rumah Honai maupun Ebai, Rumah Rumsram ini memiliki bentuk seperti rumah panggung.

Di dalam rumah ini terdapat ornamen-ornamen yang menarik berupa ukiran. Bentuk atap dari rumah ini adalah seperti perahu terbalik. Hal ini menandakan bahwa mata pencaharian  suku Biak Numfor sebagian besar adalah nelayan yang mencari ikan. Rumah ini memiliki tinggi sekitar 6 sampai 8 meter.

Terdiri dari dua lantai, rumah Rumsram ini memiliki fungsi yang berbeda-beda pada setiap ruangannya. Lantai bawah atau lantai pertama ini tidak memiliki dinding atau bersifat terbuka. Ruangan ini difungsikan sebagai tempat belajar para lelaki, seperti membuat perahu, cara berperang, memahat dan lain sebagainya.

Sementara pada bagian atas atau lantai dua difungsikan sebagai tempat tinggal laki-laki. Rumah rumsram ini memiliki dua pintu, yaitu pada bagian depan dan juga belakang. Bagian dinding rumah rumsram ini terbuat dari pohon bambu yang di cacah, sementara bagian lantainya terbuat dari kulit kayu.

Tidak seperti rumah Ebai dan Honai, Rumah ini ternyata memiliki jendela lho. Atap yang berbentuk seperti perahu terbalik ini dibuat dari daun sagu.

Menarik bukan? Penasaran? Anda bisa temukan rumah-rumah ini di pesisir pantai di Papua atau di pulau-pulau di sekitar Papua. Sengaja dibuat rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari air laut pada saat pasang.

Rumah Wamai

rumah wamai
rumah adat papua

Rumah wamai menjadi salah satu bentuk rumah adat Papua. Rumah ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hewan peliharaan, seperti babi, kambing, ayam, anjing dan hewan lainnya.  Bentuk dan ukuran rumah wamai ini sangat fleksibel tergantung besar dan banyaknya jumlah hewan peliharaan yang dimiliki oleh masing-masing keluarga. Ada yang kecil ada pula yang besar.

Secara umum bentuk rumah wamai ini memiliki atap kerucut yang terbuat dari bahan jerami. Bahkan hampir mirip dengan bentuk rumah honai maupun Ebai. Hanya saja rumah ini dibuat diperuntukkan untuk hewan peliharaan.

Bentuk rumah ini dibuat kerucut agar mengurangi angin dan suhu dingin di pegunungan. Karena pada hakikatnya hewan pun juga menginginkan tempat tinggal yang nyaman dan hangat agar hidup lebih sehat.

Rumah Kariwari

rumah kariwari
rumah adat papua

Jenis rumah adat Papua yang terakhir adalah rumah Kariwari. Rumah Kariwari ini merupakan bentuk rumah tinggal dari suku Tobati-Enggros yang biasanya tinggal di tepi danau Sentani, Jayapura.

Rumah ini secara khusus dihuni oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan berumur di atas 12 tahun. Atau dianggap sudah lelaki dewasa.

Rumah ini berfungsi sebagai tempat pendidikan untuk anak-anak laki-laki tentang belajar ilmu kehidupan. Bagaimana ia harus mencari nafkah, bertanggung jawab kepada keluarga, cara berperang, membuat senjata, membuat perahu, memahat dan lain sebagainya.

Dengan belajar berbagai pengalaman hidup tersebut, diharapkan laki-laki dari suku Tobati-Enggros menjadi sosok yang bertanggung jawab dan kuat.

Secara umum, rumah kariwari ini memiliki bentuk segi delapan atau hampir menyerupai bentuk limas. Bentuk ini sengaja dibuat dengan maksud untuk menghindari hembusan angin yang kencang.

Sehingga rumah tersebut akan lebih kuat dan bertahan. Menurut kepercayaan leluhur, bentuk atap rumah yang kerucut adalah maksud dari mendekatkan diri kepada para leluhur.

Sementara tinggi dari rumah Kariwari ini memiliki tinggi yang berbeda-beda mulai dari 20 meter hingga 30 meter. Rumah ini terdiri dari 3 lantai, dimana masing-masing lantai memiliki fungsinya masing-masing.

Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat belajar anak laki-laki. Para remaja laki-laki akan diajarkan berbagai macam ilmu tentang kehidupan, terlebih saat sudah menikah seperti mencari nafkah, membuat perahu, memahat dan lain sebagainya.

Lantai kedua berfungsi sebagai tempat pertemuan antar pemimpin suku dengan kepala suku. Selain itu, lantai dua ini juga digunakan sebagai tempat tidur laki-laki.

Sementara untuk lantai ketiga merupakan tempat untuk bermeditasi atau berdoa kepada para leluhur. Masing-masing lantai dalam rumah Kariwari ini terbuat dari kulit kayu yang didapatkan dari hutan sekitar tempat tinggal.

Sementara dinding dari rumah Kariwari ini terbuat dari cacahan pohon bambu, dan atapnya terbuat dari daun sagu.

Pada bagian tengah rumah ini terdapat kayu besi yang berfungsi sebagai pengingat dan menopang rumah agar kuat. Ikatan ini terhubung antara satu kayu dengan kayu lainnya. Dengan ikatan yang kuat akan terhindar dari hembusan angin yang kencang dan tidak terlepas.

 

Nah itulah beberapa jenis rumah adat Papua. Rumah adat Papua memiliki bentuk yang unik dan istimewa sekalipun bentuknya harus berbeda dengan rumah-rumah modern seperti sekarang ini. Namun meskipun demikian, hal ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan tinggal di daerah pedalaman dengan kondisi dan latar belakang yang berbeda.

Sering kali masyarakat Papua masih dianggap sebagai masyarakat yang tertinggal. Namun meskipun demikian, masyarakat Papua tetap bergerak maju untuk bisa mengikuti perkembangan zaman yang ada. Oleh karena itu, sudah sepatutnya sebagai warga Negara Indonesia yang baik untuk turut mendorong dan saling menghargai satu sama lain, bukan malah dihina.

Papua dengan segala adat istiadatnya merupakan bagian dari kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Meskipun berbeda-beda namun semuanya adalah saudara dalam ikatan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.